Rabu, 06 Juli 2011

Maafkan Masa Lalu

Tak semua yang lalu adalah pahit

Tak pula manis

Hanyalah mata dan hati

Jadikan berupa dan terasa

Besar hatilah,

Maafkan masa lalu dan terima masamu kini

Kita hanya berusaha

Tak ada yang tak berdosa

Begitupun hina,

Tak pernah ada yang mengingininya

Tapi Tuhan telah membukukannya

Berbesar hati

Dan kan tulus karennya

Rupa Do'a


Aku dieratnya seperti kayu rapuh

Seakan tak ku sanggup menopang,

dan setetespun air terjatuh kemudian ku tumpah

Tapi ku mengerti adaMU, Tuhan

Masalah datang hanya untuk mebesarkanku

Tiap langkah,

seakan melayu kebodohanku

Ku meninggi, anginpun pastilah kencang

Tuhan,

kuatkan kakiku

Teguhkan hatiku

kini,

hanya tinggal asa cintaMU penuhi warnaku

Dengannya Tuhan hanya mengingatkan


Ada saatnya berlari kencang

Entah, pasti ada terjatuh

Kemudian bangun

Dan hanya berjalan pelan

Perotasian segala yang fana

Usah berlarut,

Karena semenit  yang akan dan berlalu

Pun hanya bingkai misteri

Bahkan kita yang tahu

Adalah pertemuan disempurnakan oleh perpisahan

Dengannya  Tuhan hanya mengingatkan

Kita yang berencana tanpa daya menentukan

Merajuki Rindu 2


Bukan datang dari batang dan dahan yang rapuh
bukan pula tak dicengkeram akar yang kuat
dan ialah buah keranuman rasa yang indah

Mungkinkah tak terkenang
membunuh tiap lirih lalunya

Biar tak mengeruh jiwa
dari amuk rindu yang berdosa
rindu yang salah,
salah meski tak nampak dipermuka

Hilanglah cinta,
lebur bersama kremasi masamu yang suci

bersegera damai cinta,
bahagia menjelang untuk dipersambutmu

Merajuki Rindu


Rasa kian memadu, kian menyatu
Buah dari rahim keteguhan, keikhlasan
panjang tempaan,
didewasakan berkah tak berkesudahan


Aku yang tak selalu disisimu
Namun aku pahami gerak gelisahmu
rasuki ranah damai bebani luas percayamu
Sunggguh, kasihku

Usah kau rajuki suara lirih pipihkan asa kita
Karena rindu telah tenggelamkanku pada kedalamanya
Meski ranum cinta masih terasing disahara
menyepi atas lalunya yang terecap manis


Sedang inilah candu, kasihku
tiada akhir mabuki hati
kesanggupannyapun mampu sita keperihan
dan kuasa angkasan cita yang disulut indah


Maka tunggulah, kasih. Tunggu
ketika ku kosolek semesta dalam ketakjuban
penuh warna semarak pesonamu, kasihku
biar dunia menikmati karyaku karena cintamu


Tiada berbatas teranugerahi
pun pelangi meratap cemburu
kita menang , kasihku
menangi tiap perbedaan darinya kita satu

Riak kecil tepikan mimpi



Asa telah kukait diujung langit
rajami hasrat,
inginya  berpagar atas pikat para bidadari

Membuta hati  ingimu satu,
tanpa siapaun selainmu
citrai sanjung dalam senandung
kusucikan rasa
pun ku leburi rupa adamu

Namun riakan kecil tepikan mimpi
adakah jalan belum tersisir jauh
hingga  tempaan rapuhkan niatmu

Wahai candu mabuki aku nelangsa
kau yang cintaku kiblati
sedang  tertanamkah rindu atas namaku

Dan kian menyamar kini,
punggungmu  menjauh dan hilang
tak lagi ku mampu mengejar

Sejenak dengarkan, kawan



Kuuluk salam padamu, kawan
Selamanya berkasih diranah Sang Esa

Dan, ibahkan sejenak
kuingin hatimu yang mendengar
adanya hatiku tak kunjung disantuni damai
nelangsa bertudung rindu
meski tiga musim silih berganti
segalanya masih tertawan,
terkungkum dalam pesona
seraya sanjungi kelembutannya

Cintaku, bagi mereka tak ubahnya ego
ketamakan yang diujarnya
pula bersandang hanya kepuasan

Tapi lebih,
lebih dalam, kawan
karena rasa yang terlanjur terpilih
mematri kasih  bukan pada tilasannya yang berdosa

Sedang adakah kerinduannya pada gelisahku,
mengertikah dia, kawan
adalah keengganan
tak berupa ketidak mampuan hapusi kenangan

Datangnya karena pergantian,
menggemakan tulus, tanpa siapapun
selain aku yang menghendakinya