Minggu, 29 April 2012

Namun kemudian kau pergi


Senyum itu, kasihku
Dunia hanya miliki teduh tanpa gersang 

Peluk itu, kasihku
malam tak lagi berwajah sendu beku 

Serasa segalanya telah berdamai 

Ingini selalu bersama rangkul bahagia
wajah hari itu saatnya adamu disini, kasihku

namun kemudian kau pergi
hasrat bagai debu diterpa angin kini
entah terurai dimana saja

Memilu rasa ecapi peratapan
mungkin memang terbaik bebaskan sayap kebebasanmu
bebas tentukan hendak jiwa melabuhkan 

Aku hanya ingin hatimu diperdengarkan
do’a yang aku langitkan untuk pinangan atasmu
do’a yang aku lagitkan untuk jembatani mimpi pada jalan nyata 

Semoga walau hanya terjadi nanti kau mengerti 
Warna kian pekat tanpa bisa kusami lamunan
Cahaya kian terang tak berikan tempat pada gelap datang 

Saatnya bersamamu, kasihku

Berdamailah dengan hatimu disana


Ketika candu lahirkan keteduhan
pada pelukmu, kasih

Akankah terpikir bagiku pergi
Mungkinkah,
dengan mudahnya aku jauhi 

Pembeda datang jadi pencipta rasa

Usah sandangkan ragu
Usungan ketulusanku  benar adanya

Kesungguhan yang kita papah
Jadikan ranum kita karenanya 

Biar jarak sekati pandang
aku telah relakan sepi
memagari jiwaku yang bebas 
maka berdamailah, kasih
dengan hatimu disana

berpandailah menikmati berkah kasih 

Aku menunggu kembalimu
dengan pinangan yang suci
berhias do’a untuk masa kita yang baru nanti

Jangan Lanjutkan Perjalananmu Pergi


Datang kegerahan pada laju kini
diamini mereka yang tak mengerti kita

Seperti kau minta papahan seorang yang buta
adakah benar langkah yang tengah ditempuhmu 

Jangan pergi,
jika kesakitan akan datang
membelitmu hadirkan ragu 

Jangan lanjutkan perjalananmu pergi
jika nelangsa bertudung rindu
jadi bulan-bulanan sepi 

Cukupkan air mata
maafkan kekakuanku sikapi halang
yang hiaskan perjalanan

Aku masih ingin mengertimu
Aku masih ingin belajar
sandangkan senyum pada keindahanmu 

Jangan pergi dan cepatlah kembali

Senin, 23 April 2012

Ibu



Do’amu
Cintamu
melapangkan 

Pelukmu adalah surga kami,
damai 

Meski Tuhan telah sempurnakan adamu kini
tak akan terputus cinta
tak terganti hati kami miliki asamu 

Darahmu
Cintamu
malam tak akan bisa bekukan hangat kasihmu 

Tuhan hanya sandangkan tempat terbaik untukmu, kini
tunggu kami 

Anakmu mencintaimu, ibu…

Sabtu, 14 April 2012

Lalunya bekaskan kenangan yang mendalam


Dulu aku percaya
mimpi hanyalah angan tanpa bentuk
tidak setelah kau datang
berikannya makna 

Enam musim hiaskan tawa,
air mata
merapatkan hati ini bagai selamanya

Akankah kau mengerti
seperti apa setelah pergimu 
Ya, serasa asing tapaki langkah nyata

Lalunya bekaskan kenangan yang mendalam 
tak kusangka akan hari itu
ketika kau putuskan pergi
Akhiri rindu
dan berkasih denganya kini
kau bahagia 

Namun tak akan hadir penggantimu
Aku takan merela
kemudian biarkan satu tempat tetap kau miliki

Aku tak biasa meski kau kirimkan bidadari,
menggantikanmu 
Karena aku percaya
Setelahnya aku tak lantas kuburkan mimpi
yang kau tanggalkan

Ingatkan hatimu ketika duka bersenandung

Ingatkan hatimu ketika duka bersenandung 
atau ketika tangis memapah sesal dibalik kening
Aku masih menunggu kembalimu 
dalam peluk hangat seperti dulu 

Tak kumiliki maksud atas dukamu
bahkan bahagiamu adalah do’aku 
meski tanpa sentuh nyata 

Ketakrelaan
masih menyisakan harap atas bersamanya kita

Tak terbiasa aku warnakan hari menyepi
Serasa terang hanya bersekat
tanpa miliki wajah nyata
Ketika kurasa sampai hati
semuanya tertanggal dan dangkal

Pernah kucoba mencari kesanggupan
akan jawab pertanyaan
Dimana dirimu seperti yang selalu kau ucap
teduhiku
Dimana mimpi
yang hidupkan perasa rindu dalam janjimu

Aku masih hidup
dimana malam miliki senyum atasmu
Hidup dalam kenang dan nyata akan kembalimu



Relakan hari ini dan besok

Damailah,
Biar kelembutan menyapamu tanpa paksa
Mata hanyalah berbatas
maka relakan hati menjaga

Usah miliki malam sepi
pun usah sandangi harimu pada kedukaan
Aku melara bilanya angin kabari tangismu 
Pujikan syukur,
Satu dalam ikat harapi menyuci 
Relakan hari ini dan besok 
Kita tahu indahnya
Untuk satu dan menanginya

Jumat, 13 April 2012

Tangismu tak akan mengembalikan, ingatkan (Diam)

Aku akan diam
Sedang apapun itu aku akan diam

Sekali kau lakukan lagi
dan tak meyakini
Aku akan diam 

Tangismu tak akan mengembalikan,
ingatkan 

Ketika aku diam
dan tak berarti aku hanya diam
Aku tahu tapi aku akan diam 

Saat datang sesal
kaupun hanya akan bisa diam

Disaat itu juga kau sadari
kenapa aku diam 
Tangismu tak akan mengembalikan,
ingatkan 

Tinggallah sesal sebagai kenang
temanmu berdiam


Saatnya aku pergi
dan semua dari kita kan diam

Aku harus pergi


Jangan kenangiku dengan tangis
Pergiku,
kau harus yakin adalah terbaik

Duka telah cukup banyak aku semat
tak kubiarkan hatimu kembali terlukai,
karenaku
jadi biarlah merenggang
jiwa kita tak lagi Satu

Aku harus pergi
Kau harus terus hidupkan mimpi

Jalan kini biar meluas
dan sambutimu dalam kasih
Dunia menunggumu untuk diwarnakan

Hiduplah,
terus hidupi mimpi
Hanya irisan lalu pada semua do’a
untuk senyummu disana nanti

Bahagialah…

Kau harus tersenyum, maduku


Sepantasnya hatimu sambut kebeningan lain
menerawang isi dunia dengan penuh warna bahagia
pertemukan hati pada keindahan saling berbagi

Kau harus tersenyum, maduku
tak banyak yang aku tinggalkan
selain rajam duka dan sedikit tawa

Kau harus tersenyum, maduku
hingga tampak tenangiku

Seandainya kau tahu,
inginnya hati bahagiakanmu dengan pelukku

Tapi tak mengapa
cukupkan aku atas do’a dalam pelayaranmu
cukupkan aku atas do’a hingga perapatan masamu

Kau harus tersenyum, maduku
Bahagialah..



Ketika Duka Bersenandung


Ingatkan hatimu ketika duka bersenandung
atau ketika tangis memapah sesal dibalik kening

Aku masih menunggu,
dipelukan hangat Kembalimu seperti dulu

Tak kumiliki maksud atas dukamu
bahkan bahagiamu adalah do’aku
meski tanpa merupa

Ketakrelaan masih menyisakan asa,
atas lalunya kebersamaan kita

Tak terbiasa aku warnakan hari sendiri
serasa terang hanya bersekat tak nyata

Ketika kurasa sampai hati
semuanya tertanggal dan dangkal

Pernah kucoba mencari kesanggupan
darimu akan jawab pertanyaan

Dimana hasrat seperti yang selalu kau ucap,
teduhiku
Dimana mimpi,
yang hidupkan perasa rindu dalam janjimu

Aku masih hidup
dimana malam miliki senyum atasmu

Hidup dalam kenang dan nyata akan kembalimu


Jumat, 06 April 2012

Adalah Dirimu, Yang terpilih


Adalah dirimu,
serupa lumbung cinta yang meruah
dan tak beruntungnya
bila tak ku sambutimu dengan bersuka

Keayuanmu  nyata meneduhkan
terpujilah Tuhan, ku bahagia
dijinkan berpangku pada keagungan
atas perantara indahmu

Tak pernah sejenak berpikir tuk pergi
ingini selalu raih pelukmu

Mendamba bahagia tenggelam pada kasih
terus kuingin kecupi meski raga kan melayu
tak merapuh Kedekatannya kian merapat

Adalah dirimu
Malam terasa memanjang saatnya menunggu
bilakah yakin adalah dirimu
ku penuhi dunia selayak hanyalah satu,
dirimu..

Yang terpilih

Tak mungkin lagi berkasih (mengertilah)



Relakan alur ini,

jalan telah kamu pilih untuk berseberangan

tak pantas lagi aku mengiyakan

aku juga lelaki sepertinya


Relakanlah,
segalanya telah ditentukan

bahkan jauh sebelum kita dipertemukan


mengertilah,

tak mungkin lagi berkasih,

sedang dia kini kekasihmu


Maka bagaimana langkahmu bisa panjang,

bilanya hati tak kamu buka dan sertakan


Relakan,

Menjadi keharusan kau merelakan
Karena aku ingin kau bahagia

bukan karena lembar baru ceritaku


Tapi sungguh,

Aku ingin rentangkan luas deret do'a

untuk jalin kasih yang buatmu pergi

dan akan mempersambutmu nanti


Berbahgialah..